When you gotta leave it all behind

Finally got the chance to write again in this long left blog. Dan kali ini si mbah akan menulis tenting sesuatu yang sebenernya udah cutup lama pingin dishare. But I never had the chance to write. So here it is, my first personal writing after such a long period.

Kalo diliat dari resolusi tahun 2011 si mbah, salah satu point-nya menyebutkan bahwa si mbah ingin terjun dan bekerja di sebuah perusahaan besar yang memiliki nama yang terkenal sehingga saat si mbah ditanya “kerja di mana?” si mbah dengan mantabh akan menyebutkan nama perusahaan tersebut tanpa harus menjelaskan perusahaan apa itu. Well, at least itu yang selama ini si mbah alami di dua perusahaan pertama si mbah. Selalu saja harus menjelaskan apa usaha perusahaan itu.

Dan kesempatan itu pun datang. Setelah main kucing-kucingan dengan absensi dan jatah cuti kantor, akhirnya si mbah pindah kerja ke sebuah perusahaan media digital terbesar di Indonesia. And the dream was come true. Kerja di perusahaan ini serasa kerja di tempat impian. Lingkungan yang menyenangkan. Fasilitas yang sangat mensejahterakan. Dan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri yang terbuka sangat lebar di sini. Ibarat maen game, kalo mau naek level dengan cepet, loe harus kerja di sini supaya experience loe bisa naik dengan signifikan. That is exactly what I’ve got.

Tapi hidup adalah sebuah perjalanan yang kita ngga pernah tahu ke mana arahnya. Kita akan selalu merasa apakah jalan yang kita jalani ini sudah tepat. Apakah jalan ini sudah merupakan jalan yang terbaik. Atau memang ada jalan lain yang lebih bagus. You’ll never know until you try.

Pertama kerja di perusahaan ini, si bah mengalami euphoria yang sancta besar. Tanpa sadder si bah sudah mencanangkan untuk menghabiskan sisa karir di tempt ini. Tapi si bah tidal menyadari bah sebum keputusan penting sebum perushaan akan membawa perubahan yang tidal sell data diterima oleo para karyawannya. Dan untuk si bah, keputusan perusahaan tersebut yang known katanya akan membawa kebaikan baggy perusahaan itu sender take data diterima dengan bake. Call me sceptic, or afraid of changes, but actually I’m not. If I am sceptic, I would never take this company’s offer from the first time. But I did accept it as a challenge for me, and see if I liked it. And it turns out that I don’t.

Sekarang si bah sudah memutuskan untuk mengambil japan lain. Meninggalkan perusahaan terabit yang perch dihinggapi si bah. Untuk mencoba kadidat perusahaan terabit lainnya. Kalo denger kata temen sih, “you need to know when you should quit!”. Si mbah pernah berpikir bahwa si mbah bisa terbiasa kembali dengan kebiasaan yang dulu pernah si mbah alami. Tapi ternyata beberapa perubahan dalam hidup membuat kebiasaan itu sudah tidak nyaman lagi.

Si mbah selama ini berpikir si bah adalah searing petulant. Si bah tidal perch takeout untuk mencoba petualangan bra dan mencari kenikmatan tersembunyi di akhir perjalanan tersebut. And if you can’t find it (the pleasure), don’t be disappointed! There are lots of adventures that you can always go through. Dan itulah yang sat ini si mbah jalani. Semoga petualangan kale ini bisa memberikan kenikmatan yang selama ini si mbah carry. And I gotta leave all of the beautiful things that I’ve had or I could’ve had from this wonderful company. :’)

2 thoughts on “When you gotta leave it all behind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s