Isn’t it ironic…

“Isn’t it ironic? Don’t you think?” Sepenggal kalimat yang ada di lagu Ironic milik Alanis Morisette itu lagi pas banget sama keadaan si mbah saat ini. Ironis memang, baru beberapa hari yang lalu si mbah menulis tentang kebahagiaan si mbah, dan hari ini di postingan ini si mbah menulis tentang kegalauan si mbah. Yah, tapi begitulah hidup, naik turun, kadang senang kadang duka. Kita emang ga pernah tau betapa cepat perubahan suasana hati melanda. Dan itulah yang terjadi saat ini. Di saat si mbah sedang menikmati hidup, tiba-tiba ada kejadian yang mebikin hidup tidak bisa dinikmati sebagaimana layaknya lagi.

Ga ada yang terlalu istimewa memang penyebab kegalauan ini, hanyalah masalah keluarga biasa. Tapi efeknya cukup untuk membikin suasana hati jadi ga bagus. Bahkan baru aja pagi ini ditegur sama istri, si mbah yang biasanya cukup tenang jadi sedikit sewot.. Maafin aku yah sayang… Dan kebetulan hari ini harus naek bis, jadi kekurang-ajaran si kenek (yang emang udah kayak gitu) jadi ga bisa ditolerir sama si mbah. Padahal biasanya sih maklum maklum aja. Si mbah cuma bisa berharap hari ini ga ada kejadian yang memancing emosi si mbah lebih fatal lagi.

Buat yang penasaran sama permasalahannya, si mbah ga bisa menuangkan secara detil, tetapi yang pasti seperti si mbah sebutkan di atas ini adalah permasalahan keluarga. Bukan dengan istri, tapi kepada orang tua si mbah. Baru kali ini si mbah agak kelewatan pada saat berbicara dengan mami. Sebelumnya si mbah selalu bisa mencari cara komunikasi yang baik dan efektif. Hanya saja beberapa hal memicu si mbah untuk bersikap lebih tegas ke mami. Tapi itu adalah hal yang wajar di saat kita mencoba untuk memberitahukan sesuatu yang benar dan baik. Di saat seseorang sudah tidak bisa diajak berbicara dengan baik, ketegasan lah jalan terakhir.

Tapi ketegasan itu membuat kacau perasaan si mbah. Bingung. Apakah ketegasan si mbah semalam itu berada di jalan yang benar. Durhakakah si mbah dengan ketegasannya. Kenapa sih udah ditegasin masih aja ngebandel. Dan pikiran-pikiran lain yang menambah beban di pikiran si mbah yang memang belun diringankan. Wallahu’alam. Hanya Allah yang memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Hanya Dia juga lah yang bisa membantu untuk meringankan beban ini.

Seperti pepatah bijak, “Life is a roller coaster, enjoy the ride…” Setiap permasalahan harus dihadapi dengan tenang, santai, dan hindari sebisa mungkin emosi yang berlebih. Mungkin sulit untuk dinikmati tapi coba lihat sisi positif yang bisa kita nikmati. Maka perjalanan roller coaster ini bisa kita ikuti sampai akhir dengan bahagia.

Yah si mbah cuma bisa berharap kalau keadaan dapat kembali pulih. Si mbah sudah meminta maaf secara tulus ke mami atas ketegasan si mabh semalam. Mudah-mudahan hari-hari cerah sudah menanti di depan dan kategori ini tidak diisi lagi. Aminnn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s