Rejeki udah ada yang ngatur

Pemikiran ini diawali dari perbincangan dengan salah satu sobat si mbah di YM. Awalnya dari tema tujuan liburan bareng sampe tib-tiba membahas tentang pekerjaan masing-masing. Dari perbincangan tersebut tiba-tiba kami mulai membahas salah satu topik yang bisa dibilang paling sensitif, yaitu mengenai gaji. Jadi kami berdua yang sedang membahas tentang harga rumah di Jakarta yang sekitarnya yang luar biasa mahalnya. Kami pun sedikit bingung, kira-kira siapa aja yang sanggup beli rumah dengan harga segitu.

Teman si mbah bercerita bahwa temannya yang baru lulus diterima bekerja di sebuah perusahaan BUMN, dan gaji awalnya adalah 18 juta plus fasilitas-fasilitas yang lain. Si mbah juga inget kalo ada temen si mbah yang seumuran dan bekerja di perusahaan konsultan keuangan memiliki penghasilan 15 juta perbulannya. Dua angka tersebut terpaut lumayan jauh dari penghasilan kami. Jadi terbersit sebuah pertanyaan “kok kita ga kayak gitu yah?”. Sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi kalo menurut si mbah.

Tapi pertanyaan tersebut mengingatkan si mbah pada sebuah pesan, “rejeki tiap orang udah ada yang ngatur“. Dan yang mengatur tak lain tak bukan adalah Allah SWT. Pasti ada alasan tersendiri mengapa Allah memberikan rejeki yang bisa dikatakan melimpah kepada orang tersebut. Apakah memang orang tersebut memiliki amal ibadah yang lebih baik, atau usaha orang tersebut memang lebih besar dibandingkan usaha orang lain, atau ada alasan lainnya yang tidak dapat kita ketahui secara pasti. Wallahu’alam. Tapi yakinlah bahwa rejeki yang kita dapatkan saat ini adalah yang terbaik untuk kita.

Pesan tersebut perlu sekali kita pahami untuk menghindari rasa iri, dengki, sirik, dan rasa-rasa lain yang bersifat negatif yang bisa merugikan diri kita sendiri atau bahkan mungkin merugikan orang lain juga. Rasanya banyak diantara kita yang berpikiran negatif saat melihat orang lain memiliki rejeki yang berlimpah. Cukup jarang yang berpikiran positif. Perasaan dan pemikiran tersebut sebaiknya dihindari jauh-jauh.

Namun ada juga perasaan positif yang bisa ditimbulkan oleh pesan tadi. Perasaan tersebut adalah agar kita mendapatkan rejeki yang lebih baik. Tentunya tanpa merugikan orang lain. Memang sekilas pesan tersebut memerintahkan kita untuk bersyukur terhadap rejeki yang kita miliki saat ini, tapi jangan sampai kita berpuas diri. Jikalau kita memang ingin mendapatkan rejeki yang lebih baik, tentunya kita harus berusaha lebih baik lagi. Siapa tahu bahwa rejeki yang sudah diatur itu bisa diatur kembali menjadi sesuai yang kita inginkan. Wallahu’alam. Yang pasti, daripada kita iri atau sirik sama rejeki orang lain, lebih baik kita memotivasi diri sendiri untuk meraih rejeki yang lebih baik lagi dengan usaha-usaha yang halal.

Jadi inget perbincangan dengan rekan kantor tentang tukan mie ayam di depan kantor. Di balik kesederhanaan gerobaknya, ternyata penghasilan bersih per bulan tukang mie ayam itu hampir dua kali lipat penghasilan si mbah. Hehehe.. Lagi-lagi, rejeki tiap orang udah diatur. Tapi membuka wawasan juga. Apakah kita buka usaha jualan mie ayam juga kali yah? Tentu saja dengan rasa dan konsep yang lebih baik. Hehehe.. Semoga memberi manfaat.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s