Di mana kedisiplinannya?

Hari ini si mbah sengaja ambil cuti dari kantor untuk perpanjang SIM dan STNK. Berangkat pagi-pagi untuk menghindari macetnya Jakarta yang makin hari ngga makin bagus. Alhamdulillah proses perpanjangan yang si mbah lakukan di pusatnya, yaitu samsat Daan Mogot lancar jaya.. Walaupun perjalanan dari rumah si mbah di Bintaro sampe Daan Mogot sangat-sangat tidak lancar..

Si Mbah ngga akan ngebahas tentang kemacetannya, karena itu adalah hal yang lumrah selama sistem transportasi di Jakarta belum dibenahi. Cuma si mbah agal prihatin sama perilaku pengguna jalan raya khususnya para pengendara motor. Kebetulan hari ini si mbah pake mobil karena bawa rombongan. Ada sebuah ruas jalan di kebon jeruk yang mengalami antrian karena lampu merah. Sebenernya itu lampu merah biasa yang itungan detik lampunya masih wajar. Hijau sekitar 40 detik dan merahnya sekitar 35 detik. Tapi yang bikin antrian itu ngga wajar adalah perilaku bikersnya..

Di antrian itu para bikers dari awal sudah “memakan” jalur dari arah berlawanan yang dipisahkan oleh separator setinggi +- 35 cm. Itu hal yang wajar. Di saat macet memang kondisi jalan raya, ada atau tidak ada separator pasti menambah jalur yang sedang mengalami kemacetan. Yang tidak wajar adalah penumpukan di lampu merahnya, di jalur yang tidak semestinya, sampai menghalangi kendaraan-kendaraan yang “memiliki” jalur tersebut untuk melintas di jalur tersebut. Idealnya jalur tersebut bisa dilalui sampai 3 mobil, tapi akibat menumpuknya pengendara motor di jalur itu sampai2 jalur tersbut hanya memiliki satu jalur efektif. Imbasnya, karena jalur tersebut tidak dapat dimasuki dengan mudah, arus lalu lintas menjadi tersendat di seluruh titik perempatan tersebut. Kemacetan pun semakin menjadi dan sulit diuraikan.

Si mbah ngge mempermasalahkan kalau ada bikers yang mau ngambil jalur lawan supaya lebih cepat, tapi pertahankan hanya ada satu jalur. Jika sudah lebih dari satu jalur, maka akan terus bertambah jalur-jalur yang lain sampai seolah-olah jalan menjadi satu arah padahal seharusnya dua arah. Apakah sebegitu egoisnya para bikers tersebut? Ingin cepat tapi tidak memperdulikan pengguna jalan lain yang juga ingin cepat. Semua orang pasti ingin cepat, tapi masih ada orang-orang yang sabar dan disiplin. Mengapa begitu sulit bagi mereka untuk disiplin dan tertib?

Oh ya, ketidak-disiplinan itu bukan hanya oleh para bikers. Beberapa mobil pun melakukan tindakan yang serupa. Bahkan mobil-mobil yang tergolong mewah seperti CRV dan Toyota Altis. Hmm.. Dalam hati cuma bisa ngedumel, “mobil keren, kelakuan supir angkot”.

Sayang si mbah ngga sempet untuk mengabadikan “pemandangan” tadi supaya banyak orang bisa lihat keegoisan mereka. Lain kali pasti akan si mbah abadikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s